Tips Fotografi Agar Foto Liburan Lebih Menarik

Written by Tips

tips foto traveling

DISCLAIMER : Bagi sebagian orang mungkin artikel mengenai Tips Fotografi Traveling ini dinilai terlalu ribet, nritik, dan penuh perhitungan. Nggak papa, saya nulis ini juga buat yang serius-serius aja kok. He.


Traveling dan fotografi adalah dua hal yang tak terpisahkan sampai kapanpun. Apalagi jika Anda sedang menekuni profesi sebagai travel writer maupun travel fotografer. Bagi sebagian orang mungkin lebih memilih foto-foto yang indah sebagai kenang-kenangan mereka setelah selesai traveling. Dibandingkan dengan mengumpulkan oleh-oleh khas dari satu daerah. Saya setuju, karena foto yang indah mampu dinikmati lebih banyak orang daripada oleh-oleh yang hanya bisa dinikmati oleh beberapa orang saja.

Untuk itu, diperlukan kiat-kiat agar foto yang dihasilkan menjadi lebih keren. Suatu kebanggaan juga apabila foto yang kita bagikan di blog atau sosial media dapat menjadi inspirasi orang lain untuk memulai traveling.

Lalu apa saja kiat-kiat tersebut? Tenang, untuk menciptakan sebuah foto yang menarik tidak selalu memerlukan peralatan yang mahal dan canggih. Satu-satunya peralatan yang paling mahal itu adalah otak dan tangan kita yang dianugerahkan oleh Tuhan secara gratis.

Berikut adalah tips fotografi traveling sederhana untuk membuat foto liburan agar lebih menarik. Bagi saya, pertama-tama yang harus dipersiapkan sebelum memulai perjalanan adalah,

Riset Destinasi Traveling

Berbagai cara dapat dilakukan untuk riset tentang lokasi yang akan kita kunjungi. Cara Saya yang paling favorit adalah riset melalui Instagram dan Google Image Search, atau bahkan melalui video di Youtube. Cukup mengetik kata kunci dan akan banyak hasil pencarian gambar bertebaran.

Gunakan hasil pencarian untuk virtual research tentang lokasi yang akan menjadi tujuan traveling. Mungkin dari banyak hasil pencarian tersebut akan menampilkan foto yang “mirip” , baik dari segi angle maupun komposisi. Tidak menjadi masalah, gunakan imajinasi untuk merencanakan foto yang akan dibuat dengan versi Anda.

tips travel photography
Berpusing-pusing dahulu, senang kemudian. Itu sih gunanya riset.

Setelah nama destinasi tujuan ditemukan, riset juga aspek non teknis lain seperti cuaca, kapan cahaya terbaik untuk memotret, kapan destinasi tersebut ramai atau sepi, atraksi apa saja yang bisa ditemukan di tempat tersebut.

Jika ingin mendapatkan informasi yang lebih dalam, jangan sungkan untuk menjalin komunikasi dengan bertanya kepada fotografer atau kreator foto lain. Jika beruntung Anda bisa mendapat insight yang berguna untuk perjalanan nantinya.

Kebiasaan saya setelah riset adalah menyusun checklist atau wishlist tentang apa saja yang akan saya potret. Mulai dari foto yang paling umum, hingga foto yang lebih detail guna keperluan bercerita nantinya. Wishlist bisa berupa catatan di ponsel, kertas kecil atau dimanapun yang anda inginkan. Bagi saya yang seorang pelupa wishlist ini sangat membantu untuk tetap on the track.

Mengeksplorasi suatu destinasi tanpa perencanaan memang memiliki tempat dan tantangan tersendiri. Tetapi mempersiapkan kegiatan memotret dengan riset sebelumnya akan sangat menghemat waktu. Sehingga Anda bisa dengan leluasa menghasilkan foto terbaik ketika sudah berada di sana, dan dapat memaksimalkan waktu.

Tips Memilih Kamera Traveling Terbaik

Selalu Bangun Lebih Pagi dan Pulang Setelah Gelap

Bersiap-siaplah rejekimu dipatok ayam wahai para bangsawan. Bangsawan disini adalah akronim plesetan dalam bahasa Jawa yang bermakna bangsa tangi awan, atau sekelompok orang yang suka bangun kesiangan. Lalu apa hubungannya ungkapan tersebut dengan kiat memperindah foto traveling?

Semua orang tahu jika fotografi adalah kegiatan melukis dengan cahaya sebagai modal utama. Sedangkan cahaya terbaik memiliki rentang waktu tersendiri pada setiap harinya. Sunrise dan sunset adalah waktu yang paling umum untuk memotret. Selain itu ada istilah Golden Hour dan Blue Hour.

Golden hour, adalah rentang waktu satu jam setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Pada sudut kemiringan tertentu, matahari menghasilkan cahaya keemasan yang lembut dengan bayangan yang memanjakan mata. Sedangkan blue hour, adalah rentang waktu satu jam sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam. Dimana warna langit masih biru pekat dan lampu-lampu perkotaan masih menyala.

Bangun dan datang lebih awal juga membantu menghasilkan foto lebih baik. Semakin sedikit turis dan fotografer yang sudah datang, semakin hasil foto akan mendekati kualitas untuk dipajang sebagai foto kalender atau kartu pos.

fushimi inari taisha
Salah satu tempat paling banyak dikunjungi turis dari seluruh dunia. Untuk mendapat foto seperti ini perlu perjuangan ekstra.

Tapi jangan juga terlalu terpatok dengan rentang waktu tersebut, bukan berarti apabila tidak pada rentang waktu tersebut, tidak ada foto bagus yang bisa dihasilkan. Semua kembali kepada proses kreatif masing-masing.

Berinteraksi Dengan Penduduk Lokal

Bagi Saya, ini bagian paling favorit sekaligus paling sulit. Sebagai seorang introvert, agak sulit untuk membuka interaksi dengan orang yang bahkan tidak kita kenal sebelumnya. Apalagi pikiran di dalam kepala selalu berkata, “bagaimana ya respon mereka terhadap orang asing yang tau-tau sok akrab?”. Well, tidak jawaban yang paling tepat selain mencobanya. Iya, mencoba untuk berinteraksi dengan orang lokal yang belum kita kenal.

tips fotografi traveling
Memotret “manusia” memang memiliki tantangan tersendiri

Caranya ada beberapa, biasanya Saya menggunakan kiat-kiat sebagai berikut,

  1. Kalungkan kamera di leher (ingat yang di kalungin kamera, bukan celurit)
  2. Pasang senyum yang ramah dan sopan. Bukan senyum cengegesan, atau malah pose wajah fierce look ala fashion model. Bukan juga senyum-senyum sendiri, nanti dikira orgil.
  3. Mulai menyapa dengan sapaan yang sopan, menggunakan sapaan khas daerah lokal lebih bagus. Misalnya pakdhe, budhe, mas, mbak (Jawa), akang, teteh, mang (Sunda), mama, pace (Papua), dan lain sebagainya.
  4. Bangun obrolan yang bersifat umum atau seputar kegiatan yang sedang mereka lakukan. Misalnya tentang cuaca (basa-basi standart), atau proses bertani, menangkap ikan (sesuaikan dengan kondisi saat itu). Ungkapan bernada apresiasi menurut saya adalah ide yang cukup bagus. Misalkan, “panennya melimpah ruah ya Bu, Alhamdulillah”, atau “besar kali ikan ini bang, bisa cukup untuk makan satu kampung ini?”. Ya gitu deh ya, you know it better lah pokoknya.
  5. Tipikal orang Indonesia biasanya gemar bertanya balik. Saat itu jawab juga dengan nada sopan dan ramah, jauh dari kata-kata bernada jumawa, dan let it flow.
  6. Proses setelahnya akan lebih mudah, seperti meminta foto, selfie, atau bahkan bila beruntung bisa diajak makan siang atau sekedar dibuatkan kopi.

Bagi saya apabila mendapat pengalaman seperti ini akan semakin menambah value dari cerita perjalanan yang akan kita tulis nantinya. Lanjut ke tips fotografi traveling berikutnya yaitu,

Perhatikan Komposisi (Rule of Thirds / Golden Rules)

Salah satu teknik fotografi paling dasar adalah Rule of Thirds. Dimana frame dibagi menjadi 3 bagian vertikal dan horizontal. Memahami Rule of Thirds dapat membantu menciptakan komposisi yang seimbang dalam sebuah foto.

Rule of Thirds
Tempatkan key object pada sepertiga bagian frame.

Cara yang paling mudah menerapkan Rule of Thirds adalah dengan mengaktifkan fitur Grid Overlay pada kamera. Setelah itu tempatkan obyek yang akan menjadi point of interest di sepertiga bagian frame. Contohnya seperti meletakkan obyek manusia pada sepertiga garis di bagian kiri atau kanan frame. Bisa juga meletakkan cakrawala/horison pada garis sepertiga di bagian bawah, alih-alih meletakkannya tepat di tengah sehingga nampak seperti memotong frame. Penting juga untuk menjaga agar garis horison tetap lurus, tidak měrěng.

Setelah memahami Rule of Thirds, secara tidak langsung akan mendorong untuk berfikir seperti, “obyek apa yang akan menjadi point of interest yang utama sebelum memotret”. Rule of Thirds adalah teknik fotografi yang sudah ada sejak lama. Seiring berkembangnya ilmu dan trend tentang fotografi, Rule of Thirds juga kerap sengaja di langgar. Tentu saja untuk eksperimen atau eksplorasi gaya fotografi baru. Sah-sah saja menurut Saya, tidak ada yang keliru dalam dunia seni. Tetapi saran saya, tetap pelajari dasar Rule of Thirds untuk pengetahuan, setelah itu silahkan kembangkan sesuai selera.

Membawa Tripod (Lebih Baik)

Memang teknologi dan fitur yang dibenamkan kedalam sebuah kamera mirrorless saat ini sudah sangat canggih. Sebut saja Sensor Based Image Stabilizer atau In-body Image Stabilizer (IBIS), sebuah fitur yang berfungsi untuk meredam getaran kecil pada sensor kamera. Ini berarti hasil gambar akan tetap tajam walau diambil menggunakan tangan kosong pada speed shutter yang rendah. Terbukti Saya pernah memotret light trail pada jalanan kota Jakarta menggunakan Panasonic Lumix G85 dengan speed shutter rendah tanpa menggunakan tripod. Hasilnya pun sangat tidak mengecewakan.

tips fotografi traveling
Slow shutter Lumix G85

Belum lagi mayoritas lensa kamera sudah dibekali juga dengan fitur Optical Image Stabilizer (OIS), apabila kedua jenis stabilizer (IBIS & OIS) tersebut digabungkan akan menjadi Dual Image Stabilizer System. Tambah “anteng” aja tu gambar.

Kembali lagi ke bahasan awal, jadi masih perlu membawa tripod? Di jaman modern seperti sekarang ini? Jawabannya adalah kembali kepada keperluan fotografi Anda masing-masing. Prinsip Saya, membawa tripod lebih baik daripada tidak membawa. Karena dengan bantuan tripod, semakin banyak teknik kreatif yang bisa Saya aplikasikan untuk menghasilkan foto yang kreatif. Apabila tripod terlalu merepotkan, minimal Gorilla Pod atau sejenisnya. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan ditemui pada perjalanan nanti. Setidaknya, persiapan lebih baik daripada tidak mempersiapkan sama sekali.

camera tripod
Dalam beberapa keadaan tripod menjadi sangat dibutuhkan.

Bagi Saya penting untuk membawa tripod apabila hendak memotret seperti,

  • Air terjun dengan efek low speed air berjatuhan dengan halus (untuk beberapa kondisi filter ND mungkin diperlukan).
  • Light trail lampu-lampu kendaraan jalanan di malam hari.
  • Milky way, star trail.
  • Landscape, sunrise dan sunset yang dramatis.
  • Selfie, untuk yang doyan jalan-jalan sendirian tanpa pasangan.

Dengan bantuan tripod, memotret dengan mode Manual akan lebih leluasa. Kita bisa slow down sejenak sambil berpikir tentang proses kreatif apa yang akan kita potret.

Orientasi Lapangan dan Bersabar

Pergi ke tempat yang baru pertama kali dikunjungi kerap membuat Saya kebingungan. Mau mulai motret dari mana dulu nih, atau apa yang mau saya ceritakan di tempat ini. Untungnya seperti yang tertulis pada point pertama diatas, Saya sudah sempat melakukan riset kecil-kecilan sebelum sampai di lokasi tujuan. Tetapi tentu saja berbeda hasil riset dengan visual real yang Saya tangkap dengan mata kepala sendiri. Untuk itu biasanya Saya menenangkan pikiran dulu. Duduk sebentar sambil mengamati apa yang ada, atau bisa berjalan-jalan untuk mendapat sudut pandang yang lebih luas. Setelah mendapat gambaran besar di otak, baru eksekusi dengan sebaik mungkin.

tips fotografi traveling
Orientasi dengan mengamati apa saja yang tersedia di lapangan.

Sebentar atau lamanya proses orientasi lapangan tergantung juga dengan referensi visual yang dimiliki. Semakin kita banyak “vitamin” visual, semakin banyak juga gagasan atau ide untuk eksekusi foto. Ada banyak situs untuk memperkaya vitamin visual kita akan fotografi. Sebut saja 500px, 1x, Flickr, dan situs sejenis lain.

Buah manis dari kesabaran ada banyak macamnya, salah satunya hasil foto yang menawan. Point ini adalah bagian yang cukup sulit untuk dijelaskan. Intinya ya, sabar. Sabar untuk mencoba berbagai macam angle kamera, sabar ngulik satu setting kamera, hingga sabar menunggu momen istimewa tiba. Pokoknya ya, sabar is the key.

Memotret Dengan Mode Manual & Pahami Segitiga Exposure

Memang fitur AUTO pada kamera keluaran terbaru sudah cukup untuk membuat foto yang bagus, tetapi untuk menghasilkan foto yang lebih “mengesankan” Anda perlu mulai menggunakan mode MANUAL.

danau linow manado
Danau belerang cantik di Manado

Setting manual pada kamera pada dasarnya meliputi 3 aspek penting yang utama atau yang biasa disebut Segitiga Eksposure. Pahami setting manual dasar pada kamera dan Segitiga Eksposure. Dengan menguasai manual mode pada fotografi, akan lebih banyak sentuhan kreatifitas pada foto-foto yang dihasilkan. Segitiga exposure adalah salah satu bagian terpenting dalam tips fotografi traveling.

Tambahkan Elemen Manusia

Bukan, bukan swa foto yang memperlihatkan wajah dengan senyuman lebar di setiap foto yang Anda hasilkan. Elemen manusia yang saya maksud adalah bentuk manusia yang bisa mewakili diri sekaligus emosi orang yang menikmati foto tersebut. Coba tengok style foto #followmeto dari Murad Osman. Gaya foto miliknya sempat menjadi trend baru di Instagram. Menurut Saya karena penikmat foto dapat sejenak berimajinasi menjadi orang yang menggandeng atau digandeng pada set lokasi foto diambil. Sangat menarik sih konsepnya, selain model perempuannya juga selalu “menarik”.

tips fotografi traveling
Elemen manusia dapat digunakan untuk menguatkan cerita.

Elemen manusia juga dapat berfungsi sebagai skala. Seberapa megah dan tingginya air terjun akan lebih tersampaikan apabila ada orang yang berdiri di dekatnya. Tempatkan manusia pada skala terkecil untuk menjelaskan betapa luasnya sebuah padang rumput di atas bukit. Elemen manusia juga sangat membantu untuk memperkuat cerita pada sebuah foto.

Selalu Bawa Kamera

Ada pepatah mengatakan, “Seniman terbaik tidak mencari inspirasi, inspirasilah yang mencari seniman terbaik”. Ungkapan tersebut menurut saya cukup relevan apabila dikaitkan dengan fotografi. Karena fotografi bisa dibilang juga sebagai cabang seni modern. Seni memerlukan ide, dan ide dapat ditemukan dimana-mana. Apakah Anda siap mengeksekusi ide yang bisa datang kapan dan dimana saja?

Seiring jam terbang kita mempelajari dunia fotogafi, semakin terasah pula intuisi dalam memandang sesuatu sebagai obyek foto. Akan sangat menyesal apabila ketika berjalan-jalan menemui sesuatu obyek foto yang menarik tetapi kita tidak membawa senjata pusaka andalan kita?

Hormati Lingkungan Sekitar

“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.” Ungkapan tersebut masih sangat relevan hingga pada masa modern ini. Sejauh-jauhnya melakukan traveling, status kita tetap sama, yaitu sebagai tamu di suatu tempat. Alangkah baiknya jika kita menghormati adat istiadat, budaya, atau larangan yang berlaku di daerah tersebut. Sering berkomunikasi dengan penduduk sekitar atau travel buddy yang notabene masyarakat sekitar juga, dapat membantu menjaga sopan santun kita.

abdi-dalem-keraton-yogyakarta
Selalu ada yang menarik ketika dalam proses perjalanan.

Di beberapa tempat mungkin ada peraturan sensitif tentang proses pengambilan gambar. Sebaiknya tanyakan batasan tentang apa yang diperbolehkan dan tidak. Apabila tidak boleh mengambil sama sekali, lebih baik simpan kamera buatan manusia lalu gunakan kamera dan memory ciptaan Tuhan untuk merekam semuanya dengan sempurna.

Bagi Saya lebih baik meminta ijin daripada meminta maaf.

Sediakan Storage Untuk Backup

Selain menyimpan di laptop, sangat penting untuk menyimpan foto-foto yang sudah kita dapatkan pada media penyimpanan yang terpisah. Dengan begitu kita bisa mengantisipasi apabila terjadi kemungkinan terburuk seperti apabila terjadi kerusakan atau kehilangan.

Jaman sekarang sudah teknologi penyimpanan eksternal sudah sangat murah dan mudah untuk didapatkan. Menurut saya tidak ada alasan untuk pelit atau malas membuat file cadangan foto-foto anda. Untuk pilihan gratisnya (hanya modal akses internet) Anda dapat membuat cadangan file foto di website berbasis image sharing seperti 500px, Flickr, dll. Cloud storage gratisan seperti Google Drive dan Dropbox juga dapat dimanfaatkan, tentu dengan limitasi.

external hard drive
Penting sih, tapi suka disepelekan

Plihan berbayar silahkan membeli hardisk external atau flashdisk sesuai kebutuhan Anda.

Sedikit PRO TIP versi saya

  • Setelah traveling usai, pilih foto-foto terbaik yang akan kamu simpan. Buang yang benar-benar tidak akan terpakai (misal: foto yang tidak sengaja terjepret, atau foto duplikat)
  • Simpan foto dengan ukuran asli pada sebuah hardisk khusus. Perhatikan penamaan folder dan label agar mudah dicari kemudian hari.
  • Kebiasaan saya selalu Import foto-foto andalan yang akan digunakan untuk konten di blog atau sosial media di software seperti Adobe Lightroom. Untuk mempermudah proses edit sekaligus berfungsi sebagai library.
  • Foto yang Saya anggap best of the best kemudian diupload pada web image sharing seperti 500px atau Flickr, dan mirroring ke ponsel. Akan sangat berguna apabila Anda ingin sekalian membuat portofolio digital.

Jaga Barang Dari Pencurian

Saya doakan agar kita dan senjata pusaka kita selalu berada dalam rahmat dan lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Namun berdoa saja mungkin tidak cukup, kewaspadaan sangat diperlukan. Apalagi aktivitas traveling baik solo maupun grup rentan dengan tindakan pencurian.

camera security
Sungguh, kehilangan itu sangat tidak menyenangkan.

Untuk solo traveler, jaga selalu barang bawaan tetap dekat dengan Anda, pada segala macam situasi dan kondisi. Apabila terpaksa menitipkan sesuatu, titipkanlah barang yang sekiranya tidak terlalu berharga (seperti pakaian mungkin). Tetap bawa dan jaga barang berharga Anda sedekat mungkin. Jangan lengah, kadang kita lebih baik tidak berkompromi untuk suatu alasan.

Bagi yang melakukan traveling secara rombongan, akan lebih mudah dengan saling menjaga. Tetapi pastikan Anda sudah mengenal semua anggota grup dengan baik. Bukan mengajarkan untuk saling curiga, tetapi lebih ke waspada. Kembali ke paragraf di atas, sesuatu yang tidak kita inginkan acap kali terjadi pada kondisi lengah.

Kamera dan segala aksesorisnya adalah barang kecil namun mahal harganya. Pertimbangkan membeli asuransi apabila membawa kamera dan lensa kelas atas. Kebiasaan lain seperti menulis semua nomor seri pada kamera dan lensa juga dapat membantu melacak apabila terjadi pencurian. Gunakan bantuan grup sosial media untuk menyebarluaskan berita bahwa Anda kehilangan kamera (amit-amit semoga tidak terjadi, amin). Dapat juga memanfaatkan website pelacak seperti StolenCameraFinder.

Tetapi yang paling penting, tindakan terbaik adalah mencegah kehilangan.

Percantik Foto di Tahap Editing

Ada yang bilang foto yang bagus adalah foto yang tidak melalui proses editing. Saya kok terlalu pusing berdebat akan hal tersebut. Selagi foto tersebut digunakan untuk kepentingan sendiri (blogpost, sosial media), semua kendali ada ditangan Anda. Kecuali pada kebutuhan khusus, misalnya foto pesanan brand atau akan mengikuti lomba. Ada batasan sejauh mana proses editing diperbolehkan.

adobe lightroom photo editing
Tahapan editing untuk mempercantik warna foto.

Proses editing selayaknya membuat foto anda menjadi lebih cantik dan memperkuat cerita yang tersaji di foto tersebut. Apabila terlalu berlebihan, ya bisa dibilang norak sih.

Jangan Pernah Merasa Puas

Belajar adalah proses seumur hidup, dari hari dimana kita dilahirkan hingga menjelang ajal (duh, serem). Maka dari itu tidak bijaksana apabila kita cepat berpuas diri, atau malah menyerah sebelum bertanding. Fotografi adalah ilmu yang sangat luas, dan tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Sebuah foto yang baik pasti akan ada yang lebih baik, begitu seterusnya.

Setelah cukup kita belajar sendiri, belajarlah dengan orang lain. Kolaborasi, siapa tau bisa menggelar pameran foto bersama. Lumayan banyak juga ya tips fotografi traveling ini.

Sukabumi yang Selalu Membuat Jatuh Hati

Mendapatkan foto yang indah adalah sebuah kepuasan tersendiri dalam setiap perjalanan. Namun kurang  bijaksana juga apabila terlalu terobsesi akan sebuah hasil foto semata. Sehingga menjadi lupa akan makna perjalanan yang sebenarnya. Bagi saya merasakan pengalaman eksplorasi ke tempat baru adalah prioritas utama. Menyerap budaya, kearifan, pelajaran, dan nilai-nilai lokal untuk diceritakan adalah kewajiban berikutnya. Pintar-pintarlah dalam mengkolaborasikan kedua hal tersebut agar perjalanan terasa lebih menyenangkan.

Sekian dulu tips fotografi traveling dari Saya. Semoga bermanfaat dan dapat dipraktekkan pada perjalanan berikutnya. Jika ada yang memiliki pengalaman dan tips seputar travel fotografi seru lainnya, silahkan berbagi di kolom komentar ya.

Last modified: June 15, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *