Tips

TRAVELOKA #JadiBisa EKSPLORASI SEPUASNYA.

traveloka-jadibisa-eksplorasi-sepuasnya

Mau ke luar negeri, tapi masih bingung mikirin mau nginep murah di mana.

Pada akhir bulan Agustus lalu, saya berkesempatan pergi ke Jepang (setelah sebelumnya transit dua malam di Singapura dan Malaysia). Ini adalah kali pertama saya melakukan perjalanan ke luar negeri. Walaupun dengan budget yang pas-pasan, gak papa, yang penting kesampaian.

Dulu sebelum internet berkembang pesat, traveling ke luar kota, atau bahkan keluar negeri menjadi sesuatu yang sangat mahal. Apalagi untuk ukuran kantong karyawan biasa seperti saya. Yang pertama soal tiket pesawat, belum lagi soal tempat menginapnya. Mendengar kata hotel saja pasti sudah terbayang akan uang ratusan ribu rupiah yang dihabiskan hanya untuk tidur semalam. Tapi tak mungkin juga kalau kita traveling tanpa memesan hotel. Itu adalah hal yang mustahil (kecuali kalau kamu punya kenalan teman yang bisa ditumpangi, itu beda cerita).

Jadi solusinya adalah hunting hotel dengan harga yang murah, namun tetap mengedepankan kenyamanan. Memang ada? ada dong.

Seperti cerita saya di awal, dewasa ini mungkin banyak traveler kelas menengah (seperti saya) yang memiliki tujuan inti yaitu “pergi keluar negeri”. Apapun yang terjadi, dan bagaimanapun nanti, pokoknya judulnya tetap “pergi keluar negeri”. Jadi persiapan akan tempat menginap tidak kalah pentingnya dengan persiapan tiket pesawat.

Akomodasi adalah kunci.

Jika lokasi akomodasi tepat, seperti dekat dengan banyak spot wisata. Didukung pula dengan harga yang terjangkau, ini akan sangat membantu untuk menekan biaya hidup harian (ujung-ujungnya bisa buat tambahan beli oleh-oleh). Apalagi jika tempatnya nyaman dan fasilitas yang disediakan cukup lengkap. Wah, pengalaman liburan kamu pasti tak terlupakan deh.

Meadows Hostel
Meadows Hostel Singapore. Budget backpacker guesthouse.

Tapi balik lagi ke pertanyaan awal? memangnya ada penginapan dengan klasifikasi seperti itu? Saya jawab dengan sangat yakin. ADA ! (masih ngeyel? belum yakin?)

Terus bagaimana cara mencarinya ?

Jawabnya adalah melalui Traveloka. Dengan direktori hotel yang lengkap, baik di dalam maupun di luar negeri. Didukung dengan pilihan cara pembayaran yang sangat mudah. Serta fitur StayGuarantee yang memberi jaminan pasti bisa check-in, saya #JadiBisa dengan puas eksplorasi berbagai kota di luar negeri tanpa takut kantong karyawan saya jebol.

Kebayang gak sih, nginep di guesthouse Jepang hanya cukup membayar antara Rp. 180.000 – Rp. 230.000 per malamnya? Walaupun murah, fasilitas, kenyamanan, dan pengalamannya sangat sepadan. Bahkan lebih. Ditunjang pula lokasi penginapan yang sangat dekat dengan tempat wisata. Ibaratnya setelah bangun tidur, kucek-kucek mata, jalan kaki sebentar juga sudah bisa menemukan banyak turis yang lagi foto-foto.

Selama 11 hari berkeliling ke 3 negara, total saya memesan kamar di  4 guesthouse yang berbeda pada setiap kota (Singapura, Osaka, Kyoto, Tokyo). Contohnya ketika singgah di Osaka, saya sengaja memilih guesthouse yang berdekatan dengan Dotombori Bridge. Area yang terkenal dengan kuliner khas Jepang dan spot wisata malam di Osaka. Pemesanan saya lakukan satu bulan sebelumnya ketika masih berada di Indonesia. Proses pembayarannya pun mudah, bisa menggunakan kartu kredit, transfer antar bank ternama Indonesia, hingga layanan pembayaran melalui mini market. Tidak lama setelah verifikasi pembayaran, akan dikirim e-voucher ke email kita. Sebagai bukti telah memesan penginapan pada hari yang telah ditentukan. Tidak berbeda dengan proses pemesanan penginapan di kota lain, cukup pilih tempat yang paling cocok, kemudian bayar, dan terima bukti pemesanan. Sekarang #JadiBisa lebih mudah memesan penginapan.

Manfaat kemudahan dalam pemesanan melalui Traveloka itu pun berlanjut. Ini terjadi ketika saya hendak masuk kota Osaka. Ada sedikit insiden yang membuat saya tertahan selama kurang lebih 1 jam, di ruang interogasi petugas Imigrasi Kansai International Airport. Mungkin karena ini pertama kalinya saya mencoba masuk ke Jepang, atau kurang jelas dalam menulis alamat tinggal di kartu disembarkasi. Bahkan menurut informasi teman yang tinggal bekerja disana, bahwa baru saja ada berita tentang sekelompok orang Indonesia yang menjadi pekerja ilegal, bermodalkan visa kunjungan wisata. Apapun alasan bisa terjadi ketika kamu terkena random check.

Proses pemeriksaan bandara Kansai belakangan ini memang sangat ketat. Mungkin bisa menjadi persiapan jika kamu nantinya terkena random check seperti yang saya alami. Petugas imigrasi akan melontarkan banyak pertanyaan mendetail tentang,

  • Data diri. (Paspor)
  • Pekerjaan (detail sampai disuruh menunjukkan kartu pengenal dan foto ketika bekerja).
  • Tujuan berkunjung.
  • Jumlah uang tunai yang dibawa.
  • Apakah membawa kartu kredit/debit (jika debit, ditanya juga bisa diambil di ATM mana saja? dan berapa jumlah uang yang tersimpan dalam rekening).
  • Mau pulang ke kapan? udah punya tiket pulang belum?
  • Selama di Jepang, tinggal dimana saja?

Intinya jawablah dengan jujur dan meyakinkan. Lebih bagus apabila disertai bukti yang otentik. Petugas imigrasi sempat terheran dan bertanya, “bagaimana kamu bisa tahu akan tempat-tempat disini?”. Karena tidak mau kalah, saya jawab dengan sedikit sombong. “I have learn everything about your country, Sir”, (dimaklumi ya).

Kansai International Airport
Kansai International Airport. Lega rasanya setelah lolos dari ruangan interogasi pihak imigrasi bandara.

Nah, untuk pertanyaan terakhir bisa sangat mudah saya jawab hanya dengan menampilkan bukti voucher hotel yang tersimpan di email. Ternyata pertugas tersebut tidak cukup hanya dengan mencatat nama dan alamat penginapan, namun mencatat juga detail akan harga per malam dan konversinya dalam mata uang Yen. Sangat teliti ya orang Jepang.

Itu tidak sulit, selama riwayat pemesanan masih tersimpan di aplikasi Traveloka. Cukup klik dan akan muncul detail penginapan yang telah dipesan. Setelah hampir 1 jam ngobrol seru dengan petugas imigrasi, akhirnya saya diijinkan mendapat akses untuk masuk ke Jepang. Syukurlah, dengan Traveloka #JadiBisa beneran jalan-jalan ke Jepang.

Traveloka Booking History
Riwayat pemesanan hotel Traveloka app.

Karena sudah mendekati jam 5 sore, saya memutuskan untuk segera menuju ke pusat kota Osaka menggunakan kereta ekspres Haruka (yang artinya “sangat jauh” dalam bahasa Jepang). Lalu disambung dengan subway menuju area Dotombori. Jalan sedikit, ketemu deh penginapan saya.

Wasabi Guest House, Osaka.
Wasabi Guest House, Osaka.

Proses check in nya sangat mudah, hanya perlu menunjukkan paspor. Ketika saya mengeluarkan paspor Indonesia, petugas penginapan langsung menyebut nama dan jangka waktu menginap. Benar-benar akurat data yang sudah terekam lewat aplikasi Traveloka.

Setelah mendapat akses kamar dan membersihkan diri. Tidak perlu berlama-lama saya langsung keluar menuju area Dotombori River. Dengan bantuan canggih Traveloka, saya #JadiBisa kulineran takoyaki di tempat asalnya.

Dotombori Shopping
Dotombori Shoping Street. Salah satu destinasi wisata belanja dan kuliner unggulan di Osaka.
Dotombori Bridge
Dotombori Bridge

Karena pakai Traveloka #JadiBisa ngapain aja.



0 Comments
Share

Arief Hermanto

Visual Story Teller - Mencoba berbagi tentang cerita perjalanannya, merealisasikan banyak rencana yang hanya masih menjadi rencana. Karena hidup itu cuma numpang bercanda, ye kan?